Sunday, June 9, 2013
Monday, May 6, 2013
Perlunya Mengukur Kecerdasan Humor (HQ)
3:22 AM
No comments
Oleh Darminto M Sudarmo
Setiap orang perlu mengukur tinggi-rendahnya kecerdasan otak
atau Intellegent Quotient (IQ) untuk
mengetahui seberapa potensi kecerdasan otak yang dimilikinya. Setiap orang juga
perlu mengetahui seberapa potensi kecerdasan emosinya (EQ - Emotional Quotient) maupun seberapa
potensi kecerdasan spiritual yang dimilikinya (SQ - Spiritual Quotient).
Bagaimana dengan kecerdasan humor
(HQ - Humor Quotient)? Mengapa kita
hampir tak pernah mengenal atau mewacanakannya? Padahal kita semua menyadari
bahwa humor itu hadir dan ada seiring dengan kehidupan dan peradaban manusia
itu sendiri. Manusia memerlukan humor sama halnya dengan manusia memerlukan
oksigen, untuk keberlangsungan kehidupan dan peradaban.
Analogi dalam mitologi Yunani
bahkan membagi dunia ke dalam dua bagian; yaitu dunia tragedi dan dunia komedi.
Dunia tragedi mengacu pada pakem (hukum
baku) dan komedi mengacu pada nonpakem
(hukum nonbaku). Hukum baku merujuk pada pola pemikiran tentang segala sesuatu
yang serba pasti atau matematis; misalnya, 2+3=5. Sementara hukum nonbaku
sebaliknya, tak terbatas. Masyarakat modern lebih mengenalnya pada istilah
kreativitas.
Kalau analogi di atas dikerucutkan
lagi, maka kecerdasan matematis atau otak (IQ) itu lebih memuara pada
pengertian kecerdasan otak kiri; sedangkan kecerdasan kreativitas (humor, salah
satunya – HQ) lebih memuara pada pengertian otak kanan. Otak yang berhubungan
dengan potensi imajinasi, daya cipta, persuasi, adaptasi, persepsi dan
lain-lain yang tak ada batas tepinya.
Jika merujuk pada pengertian di
atas, kecerdasan humor sebagai anak derivasi otak kanan yang begitu penting
perannya dalam kehidupan kita sehari-hari, mengapa kita nyaris tak mengenal
peran dan fungsinya dalam kehidupan nyata? Mungkinkah itu terjadi lantaran
metode pendidikan (formal) kita sangat tergila-gila dan mengagungkan hafalan
(kerja otak kiri) sebagai sebuah tolok ukur final prestasi insan terdidik kita?
Evaluasi model UN (ujian nasional) berupa soal pilihan ganda, jelas-jelas
menafikan peran imajinasi dan daya cipta (kreasi) anak-anak kita. Itukah yang
disebut pendidikan manusia seutuhnya?
Salah satu keprihatinan yang pernah
dicetuskan Prof DR dr Ni Luh Ketut Suryani,
psikiater, psikolog, spiritualis dan guru besar Universitas Udayana, Bali
adalah perilaku masyarakat modern (hasil didikan ideologi otak kiri) yang hanya
sedikit (5-10%) memanfaatkan potensi otak kanannya. Selebihnya mereka terjebak
dan keasyikkan dalam aplikasi disiplin logika otak kiri. Fakta ini barangkali
yang membuat out put didik kita
menduduki ranking sangat memprihatinkan dibanding dengan Negara-negara lain di
dunia.
Pada akhirnya, di antara kegiatan
yang berhubungan dengan kreativitas yang begitu banyak jenis dan bentuknya,
mengukur kecerdasan humor menjadi sangat penting karena ia juga salah satu
parameter untuk memandu seseorang mengetahui minat dan bidang pekerjaan yang
cocok dengan dirinya. Ia juga dapat memberi gambaran peta adaptasi terhadap
berbagai situasi yang berbeda-beda; tak terkecuali mengenal pengetahuan
bagaimana menyikapi kondisi yang paling tidak diharapkan dalam kehidupan atau
pekerjaannya. Banyaknya kasus keputusasaan dalam hidup yang kemudian diakhiri
dengan bunuh diri, seyogianya dapat pula direduksi dengan melihat peta
persoalan pribadi (seolah-olah sebagai manusia paling malang di dunia), padahal
sesungguhnya persoalan yang sama juga dialami oleh masyarakat lainnya.
Kecerdasan humor (HQ) memang
berbeda dengan rasa humor (sense of humor).
Kecerdasan humor lebih mengacu pada pengertian potensi atau ketersediaan
kecerdasan humor yang ada pada diri seseorang, sementara rasa humor lebih
berupa kemampuan untuk mengapresiasi atau menciptakan humor sesuai potensi
kecerdasan humor yang ada pada seseorang.
Tanamkan keyakinan ini bahwa Anda memiliki selera humor yang baik dan
Anda tidak takut untuk menggunakannya. Biarkan rasa unik humor Anda memberikan
akses ke hal-hal yang paling penting -- baik di tempat kerja maupun dalam kehidupan
sehari-hari, itulah: kenikmatan murni, rasa penuh makna, kemudahan dan
relaksasi. (lihat: HQ-Humor Quotient
– Kecerdasan Humor, hal 20).
Friday, October 26, 2012
Buku Baru Darminto Republik Badut
5:04 AM
1 comment
Buy it! Click here!
Atau Anda hendak mengoleksi
3 judul dlm satu harga
yang sangat terjangkau
hanya Rp 50 ribu!
Order Here!
Buku Darminto Tersedia dalam Bentuk eBook!
4:59 AM
1 comment
New Updating
Anatomi Lelucon di Indonesia
Buku Anatomi Lelucon di Indonesia terbitan Penerbit Buku Kompas di
atas tak mungkin Anda dapatkan di toko buku atau outlet pameran buku
lagi karena persediaan telah habis. Kini untuk memenuhi permintaan
berbagai kalangan baik dari kalangan masyarakat umum maupun para
akademisi, kami Penerbit Kombat Publishers menyediakan untuk Anda
dalam bentuk ebook plus+plus! Artinya, selain telah diadakan revisi dan
pemutakhiran data juga telah ditambahkan aneka materi atau bahan paling
mutakhir (2012) kaitannya dengan isyu perhumoran nasional.
Buku
telaah tentang humor yang amat langka ini sangat cocok bagi Anda untuk
bahan referensi, penelitian atau sekadar wawasan. Anatomi Lelucon di
Indonesia benar-benar berbicara tentang seni humor yang ada di Indonesia
dengan caranya yang khas dan jenaka. Berikut Anatomi Lelucon di
Indonesia versi ebook plus+plus yang baru dan tersedia untuk Anda.
DATA eBook
Judul : Anatomi Lelucon di Indonesia
Penyusun : Darminto M Sudarmo
Penerbit : Kombat Publishers - Semarang - Indonesia, Okt 2012
Format : A4 (Portrait) - 21 x 29,7 cm—190 hal
ISBN : 979-3468-28-9
Harga : Rp 75.000 (Tujuh puluh lima ribu rupiah) + Ongkir
Order : Klik di Sini
Friday, August 3, 2012
Si Cicak Sudah Berani Gigit Buaya
1:50 AM
No comments
![]() |
| M Djoko Yuwono |
Oleh Ki Jenggung
PARA peneliti binatang melata dunia terperanjat tentang fenomena ganjil di Indonesia. Mereka tak habis mengerti kenapa kasus aneh binti ajaib itu bisa terjadi di negeri ini. Tapi, ya tanah air kita sudah telanjur dicap sebagai negeri yang serba memungkinkan. Apa saja bisa terjadi.
Contoh yang paling jelas adalah bagaimana seseorang dengan gaji yang secara teoritis hanya cukup untuk hidup dengan satu istri dan dua anak selama 10 hari, pada kenyataannya mereka masih hidup sampai bulan berikutnya serta mengirim anak-anaknyake sekolah.
Ada lagi contoh ekstrem yang benar-benar terjadi. Ada seorang pegawai negeri dengan pangkat III-A, tetapi memiliki harta kekayaan hingga mencengangkan orang. Sejumlah rumah mewah dimilikinya, juga beberapa kendaraan kelas menengah atas, punya perusahaan, perkebunan dan entah apa lagi. Secara teori dan kasat mata, semuanya sulit dimiliki si “oknum” itu, sebab daftar gaji dan tunjangan si “orang beruntung” itu dapat diketahui dan dikalkulasi. Publik sudah tahu.
Hasilnya? Si oknum menghuni hotel gratisan yang berbiaya tinggi kalau keinginannya banyak. Hotel ini multi-service atau full-service selama jari telunjuk dan jempol bisa digesekkan sesamanya. Maksudnya punya duit apa tidak, gitu looh.
Itulah contoh-contoh ganjil yang terjadi di negeri yang semuanya bisa terjadi … terutama kalau ada uang. Artinya, lagi, semuanya bisa dibeli. Maka, berbahagialah orang-orang beruang (berduit, berharta, maksudnya) karena dia menjadi pemimpin atau pejabat bayangan. Kasus-kasus yang menyengsarakan dan merugikan rakyat bisa disulap menjadi tanggungan negara, dus, beban rakyat. Kasihan rakyat negeri subur makmur gemah ripah, loh jinawi, ini.
CICAK vs BUAYA
Akan halnya binatang melata yang sudah disebut-sebut di bagian awal tadi, maka kegemparan itu terjadi pekan ini. Dalam sejarah binatang atau fauna selama ini, cecak selalu ketakutan mati-matian menghadapi buaya. Secara fisik ia hanyalah sebesar kelingking buaya. Jadi, kalau berkelahi, maka si buaya cukup melentikkan jarinya yang bujel buruk itu langsung si cecak langsung mati tanpa minta minum dulu atau meninggalkan pesan-pesan terakhirnya.
Di tahun 2010 ada gegeran mengenai adu kekuatan antara cicak dan buaya. Itu terjadi karena kasus korupsi yang dilakukan “pendekar” dari timur. Kecurangan itu diendus oleh institusi negara yang disebut Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Institusi ini tergolong masih muda sekali usianya, masih bayi. Terjadilah pertengkaran dengan institusi negara lain yang bertugas menegakkan hukum sejak proklamasi kemerdekaan, 67 tahun silam. Pejabat di instansi “saudara tua” itu gerah, pontang-panting, dan sesumbar bahwa bayi itu belum bergigi, sedangkan dia adalah “buaya” yang bergigi tajam, cakarnya kuat, dan jepitan rahangnya sangat kuat mampu meremukkan tulang hewan lain.
Sesumbarnya yang terkenal hingga kini adalah KPK ibarat cicak melawan buaya. Akan tetapi, ia lupa bahwa cicak ini didukung jutaan rakyat yang sudah muak dengan buaya-buaya yang ada. Hewan ini ganas, liar, galak, dan rakus. Bahkan bangkai pun ia makan. Jangankan kasus besar, kasus sandal jepit, buah coklat lima butir dan sejenisnya dilalap habis.
Ia tahu betul bahwa bangkai besar akan membawa rezeki besar, maka justru bangkai besar-besarlah yang aman, supaya bisa digigiti sedikit sedikit. Kalaupun suatu saat ketahuan bau busuknya, maka si bangkai besar ini juga berubah menjadi sapi perah yang susunya nikmat (buat buaya). Maka, tujuan, cita-cita atau mimpi (istilah keren dari AS) para calon bangkai busuk adalah berusaha menjadi bangkai besar sekali supaya aman. Kalau pun masuk hotel gratis, dia mendapat fasilitas kelas hotel bintang lima.
Sang cicak yang kecil melata di dinding itu akhirnya tetap tegak dan buayanyalah yang justru masuk kandang gratisan. Apakah ia mendapatkan fasilitas bintang lima? Ini juga tak jelas karena kasusnya sudah tertutup kasus buaya-buaya liar di luar institusi yang justru seru-seru.
CICAK GIGIT BUAYA
Si bayi cicak mendapat dukungan dari jutaan rakyat karena tinggal inilah satu-satunya institusi negara yang bisa menggulung bangkai-bangkai, besar maupun kecil. Yang namanya partai politik yang sejatinya harus mengawasi jalannya pemerintahan malah ikut pesta bangkai pula. Kalaupun ada, yang minta bunga yang bunga bangkai, yang minta durian ya yang busuk tanpa menjadi tempoyak.
Pekan ini jagad pemberitaan media massa dikejutkan dengan “aksi nekad” cicak yang nyelonong masuk ke sarang buaya yang selama ini dianggap “wingit” guna membongkari tumpukan bangkai. Tentu saja para buaya tak terima. Ini memalukan, masak “jeruk makan jeruk”, sehingga cicak-cicak diperangkap di “lubang buaya” selama beberapa jam. Bangkai-bangkai dilarang dibawa ke luar selama berjam-jam. Baru setelah pimpinan cicak menghadap pimpinan buaya, persoalan rada-rada klir.
Bayangkan saja, bagaimana mimik wajah para buaya yang diaduk-aduk lubangnya oleh cicak-cicak: gemas, malu, marah, dan pasrah. Ini bahasa wajah, ekspresi yang sulit ditiru oleh Charlie Chaplin, Ben Turpin, Oliver Hardy dan Stan Laurel maupun Mr Bean atau maestro pantomim asal Prancis, Marcel Marceau.
Berbeda dengan kasus dua tahun silam, kini cicak sudah punya nyali masuk ke “lubang buaya”, mencari bangkai bernilai miliaran rupiah. Seperti kata pemimpin cicak bahwa kasus Hambalang memiliki anak-anak tangga, maka diharapkan si cicak KPK mampu mendaki tangga lebih tinggi untuk membongkar bangkai-bangkai yang disimpan di lubang biawak, komodo, bahkan T-Rex sekalipun. Mereka ini tengah mangaduk-aduk sarang tokek di Senayan. Suara tokek sering sekali terdengar, parau dan menyakitkan telinga. Bahkan para tokek pernah sepakat untuk menggulungtikarkan sarang cicak karena mengganggu kegiatan pencaplokan serangganya. Tokek di Indonesia juga gemar makan bangkai besar-besar. Kok begitu?
Ya, seperti sudah dikatakan semula, ini Indonesia, segalanya bisa terjadi. Paham, kan?
Toko Lucu
Amazon.com ArtStore Camera & Photo Store Mp3 Store Office Products Store Kindle Store Sports & Outdoors Store Health & Personal Care Store Home & Garden Store Grocery Store Magazine Subscriptions Store Software Store Shoes Store Tools & Hardware Store Kitchen & Housewares Store Industrial & Scientific Store Jewelry Store Video On Demand Videos Store Gourmet Food Store Watches Store Beauty Store Computer Store Cell Phones & Service Store Electronic Store Automotive Store Apparel & Accessories Store DVD Store Miscellaneous Store Wireless Accessories Store KOKKANG Store
$value) {
if (strpos($param, 'color_') === 0) {
google_append_color($google_ad_url, $param);
} else if (strpos($param, 'url') === 0) {
$google_scheme = ($GLOBALS['google']['https'] == 'on')
? 'https://' : 'http://';
google_append_url($google_ad_url, $param,
$google_scheme . $GLOBALS['google'][$param]);
} else {
google_append_globals($google_ad_url, $param);
}
}
return $google_ad_url;
}
$google_ad_handle = @fopen(google_get_ad_url(), 'r');
if ($google_ad_handle) {
while (!feof($google_ad_handle)) {
echo fread($google_ad_handle, 8192);
}
fclose($google_ad_handle);
}
?>?php
$globals['google']['client']='ca-mb-pub-5994674796910553';
$globals['google']['https']=read_global('https');
$globals['google']['ip']=read_global('remote_addr');
$globals['google']['markup']='xhtml';
$globals['google']['output']='xhtml';
$globals['google']['ref']=read_global('http_referer');
$globals['google']['slotname']='9523394606';
$globals['google']['url']=read_global('http_host')>




















