SATU

Ini bukan review tapi view.

DUA

Asyik kan sekali-kali lihat yang oke.

TIGA

Segar di mata nyaman di hati.

EMPAT

Mata lepas pikiran bebas.

LIMA

Akhirnya badan kembali fresh siap kerja lagi.

Thursday, November 26, 2009

Tuesday, November 17, 2009

MPR Gelar Sumpah Pocong

Oleh Tandi Skober

Hening menelikung ruang majelis rakyat. Kepala patung Burung Garuda tidak lagi miring ke kiri tapi sudah menghadap ke depan. Mata garuda itu agak sikit sipit mirip tokoh China bernama Hwang Sho Gok. Hidung garuda tidak lagi bengkok tapi lurus. Ini ngingetkan akan hidung neoliberalisme bernama Yu Liah Robek. Kepak sayapnya? Hmm berwarna koalisi kuning biru dan pink. Ada seleret tipis warna merah, tapi tidak dominan. Dan di sana ada tulisan dalam tinta emas bertuliskan: Jaya, Jenius sekaligus Jenaka.

Mata Garuda itu melihat para wakil rakyat, utusan golongan, dan golongan putus asa yang duduk manis di deret kursi yang melengkung oval. Tampaknya mereka mematut-matut diri ‘buruk rupa tetep mencari cermin’.

Tribun atas sebelah kiri terlihat dipenuhi parlemen facebooker. Mereka berseragam serba putih berpita hitam. Zikir mata mereka: ”Kpk,kpk,kpk,kpk” Tribun atas sebelah kanan tampak komunitas berbagai LSM berseragam serba merah. Di dahi meraka ada gambar cikcak. Sementara tribun di antara kiri dan kanan terlihat parlemen media cetak elektronik baik dari dalam negeri maupun luar negeri. Dipastikan semua televisi mengadakan siaran langsung. Dipastikan juga semua koran menunda ded len hingga gelar sumpah pocong khas MPR ini berakhir. Di luar gedung MPR, bahkan di seluruh pelosok negeri, semua, semua dan semua rakyat duduk di depan pesawat televisi.

“Bila dulu sumpah palapa Gajah Mada mampu mempersatukan nusantara,”ucap pimpinan sidang Taufik,memulai acara gelar,”Maka hari ini Sumpah Pocong akan jadi saksi sejarah bahwa keadilan tetap tegak mesti dibawah todongan bedil. Keadilan kudu istikamah meski langit Indonesia kucurkan darah. Keadilan harus tidak berpihak! Itulah sebabnya kepala burung Garuda tidak lagi melihat ke kiri tapi melihat ke depan! Kenapa? Kalau kepala burung lihat ke kiri ato ke kanan itu namanya burung selingkuh! Jangan biarkan burung siapapun sebesar apapun selingkuh. Kepala burung harus dipastikan menghadap gua garba keadilan! Hidup kepala burunggggggg!”

“Hiduppppp!” teriak para wakil rakyat berkelamin wanita sambil nyanyi, ”Topi saya bundar, bundar topi saya, kalau tidak bundar bukan susu saya.” Sementara para wakil rakyat berkelamin pria koor nyanyi, ”Burung kakak tua menclok di MPR, meski sudah tua tetep di DPR.”

Taufik mengangkat tangannya, ruang kembali hening. “Itulah Indonesia, saudara-saudara. Tiada hari tanpa nyanyi, caci maki dan cari muka, ”kembali ucap Taufik,”Padahal daripada unjuk caci maki kenapa kita tidak cuci muka ambil air wudlu dan shalat? “

Taufik cengar-cengir. “Kemarin wartawan Dadang Kusnandar dari CNN mewawancarai saya. Dia bilang kasus cikcak-buaya sebenarnya terjadi disebabkan adanya lack of leadership of SBY. Kenapa sumpah pocong jadi solusi? Saya jawab sumpah pocong adalah sumpah yang mengakar di tanah Jawa dan bersifat kulturistik.”

Orang di ruangan MPR manggut-manggut. Decah kagum tertuju pada Taufik. Apalagi saat Taufik masuk tivi pas diwawancarai TV Cerhebon. Ia kenakan kupluk putih, sarung putih, baju koko putih dan berkata, ”Kasus cicak-buaya adalah pengulangan fenomena sejarah. Era Amangkurat XVI abad ke 17, ada kasus wadon nir wadonira. Rakyat gelisah. Terjadi geger rerungon tak sedap tertuju pada istana. Eh, raja diam-diam saja. Raja tertelikung lack of leadership. Hingga para punggawa pun adakan protes lewat ‘sabdapalon pepe asal oyeg’. Saat itu sang raja tersentuh. Ia ambil keputusan keluarkan trakat sumpah pocong massal di seluruh negeri. Hasilnya? Negeri kembali menjadi tentrem kerta hatta rajasa...”

“Itukah sebabnya MPR akan gelar sumpah pocong?” tanya wartawan.

“Benar dan betul tul tul tul...”

***

Lagu kebangsaan “Cecak-cecak di Dinding” baru saja selesai diperdengarkan ketika tiga manusia dari kelompol cecak yaitu ABC (baca Antah Bibit dan Canda) juga 2 manusia dari kelompok buaya yaitu xx ww memasuki ruang MPR. Manusia nan lima itu membawa kain kafan panjang berwarna putih. Ruangan pun dialiri ketegangan yang pengap. Semua mata tertuju pada prosesi sumpah pocong.

Kini ke lima manusia itu menghadap pimpinan MPR. Si A maju selangkah bicara cukup tegas, ”Kami siap melaksanakan sumpah pocong. Laporan selesai!”

“Lanjutkan!” balas Taufik, ”Lebih cepat lebih baik!”

Maka, lihatlah satu demi satu mereka membungkus tubuhnya dengan kain kafan putih. Sementara petugas secretariat MPR agak terburu-buru membawa 5 kurungan ayam. Satu orang dapat satu kurungan ayam. “Kalian ngga lupa kan prosesi sumpah pocong?” tanya seks kretariat.

Manusia nan lima mengangguk. Mereka sudahpun berbungkus kain kafan. Bahkan begitu sangat anggun masuk ke dalam kurungan ayam. Terus? Taufik berkata tegas, ”Saudara-saudara, lihat kini sudah ada lima kurungan ayam berisikan tokoh republik ini yang berbungkus kain kafan. Kepada semua yang hadir nyanyi turun sintrennnnn, gerak!” Tak pelak, semua yang hadir di ruang MPR nyanyikan lagu turun sintren.

Dari tribun utara terdengar koor, “Turun-turun presiden, presidene widadari, nemu kembang yun ayunan, nemu kembang yun ayunan, kembange si jaya indra, nemu kembang yun ayunan.”

Dari tribun selatan, “Turun-turun sintren, sintren widadari, nemu kembang yun ayunan, nemu kembang yun ayunan, kembange si jaya indra, nemu kembang yun ayunan.”

Taufik bingung, ”Wah kok jadi begini. Sintren! Bukan Presiden!”

Tapi tetep saja ada dari mereka yang nyanyikan lagu turun presiden. Ruang jadi chaos. Mereka kini turun menjadi dua kelompok. Ada kelompok Turun Presiden ada kelompok turun sintren. Sementara lima kurungan ayam mulai asal oyeg, bergerak dan terus bergerak. Kurungan ayam itu seakan-akan menari. Ini adalah tarian politik Indonesia. Juga, lihatlah mata burung garuda mulai menangis. Airmatanya mengalir deras, amat deras. Hingga ruang MPR banjir airmata burung garuda.... Jawa pun tenggelam.

Tiba-tiba...”Tandiiiiiiiiii!”teriak Taufik Hidayat,”Mana naskah asal oyeg?!”

“Siap, Boss! Dah selesai boss! Judulnya sumpah bohong, Bos.”

“Sumpah bohong ato sumpah pocong!”

“Sumpah bohong!”

“Siapa yang bebohong?”

“Tandi Skober, Boss!”***

Sunday, November 8, 2009

Karikatur Djoko dan Gom Tobing

Monday, November 2, 2009

Serba Buaya dan Cicak

Menanam Bibit Canda di Kepolisian

Ketika SBY menulis korupsi di atas air “Mari menanam, Indonesia,” itu kata Departemen Kehutanan. Lain halnya Departemen Ketuhanan, “Mari menanam kasih sayang.” Terus Kepolisian? “Mari menanam Bibit Candra,”ucap diri saya, untuk saya sendiri. Terus? Saya berdoa di depan patung polatas, “Jadikan bibit canda ini sebuah pohon yang tinggi. Buahnya yang banyak banget ya Tuhan. Akarnya besar menghujam ke tanah. Sehingga tidak roboh kena angin. Hingga kelak—seperti halnya pohon mangga— tiap kali orang melempari pohon KPK, dibalasnya dengan berjatuhan buah mangga yang ranum harum dan mempesona.” Menulis korupsi, seperti membuat lukisan di atas air. Konon, ini obsesi sia-sia. Tapi menulis ‘korupsi’ di atas air dengan tinta cinta ‘kriminalisasi KPK’, Insya Allah sebuah pengembaraan pencarian srengenge kembar lelima. Di sini, ujung pena itu akan menjadi sungai ‘lir manis kalawan madu’ yang aliran tintanya menjadi sungai sunyi di beranda depan Istana Presiden. Jelang pesta politik 2009, lihatlah Aulia Pohan berwajah tak sumringah memasuki ruang sel tahanan dan dari istana presiden, cermati wajah teduh yang gelisah negarawan Susilo Bambang Yudoyono. Saat itu, langit Indonesiapun berpantun politik ‘berakit-rakit ke KPK, berenang-renang ke 2009’. Biarlah sang besan mengutipi airmata korupsi, toh di ujung panggung yang lain ada iklan kenegarawanan jelang pilpres 2009. Lain lubuk, lain rasanya, lain presiden, beda pula gayanya. Bahkan tidak mustahil, dari ruang yang temaram, tak sedikit orang berparodi ‘ada apa di balik apa’ sambil saling awisik-winisik akeh bekti lulut, saling berbisik penuh rasa cinta bahwa:” We are all confined in our own skins.” Saat Kepolisian menenam bibit canda, adakah SBY menulis ‘korupsi’ di atas air? Tentu, tak jelas! Tapi paling tidak Jakarta mengisyaratkan bahwa ada suara sunyi yang lirih dari istana: ” Law is rule of moral action obliging to that which is right.” Dalam perspektif the democracy of silence, gaya SBY ini dimaknai sebagai aksi moral hukum yang reformis. Sumber Gaya Manusia yang mensinergikan Sumber Daya Manusia dengan kalkulasi linier politika. Orang arief menyebutnya sebagai partikel steril yang tidak bisa dikorup oleh apapun juga yang muncrat dari ruang kolbu yang istiqamah. Bisa jadi begitu, itu! Tak mustahil, ini sejenis the eloquency of silence hanya kefasihan dalam kebisuan belaka. Sesuatu yang gelap yang membuat manusia terperangkap dalam diam. Ketika diam, akan banyak percakapan yang bisa didengar. Dalam diam, suara risau akan mengalir hingga jauh. Hingga, kumpulan kalimat, pidato dan bebunyian saling-silang memosisikan diri sebagai parameter nilai langkah 2009-20014. Dan, dalam tahap inilah ‘korupsi’ yang ditulis di atas air itu bagaikan kolam kelam asketisme. “Kegembiraan dan kecemasan itu,”tulis Omar Khayyam,”bagaikan dua sisi dari kopeng uang yang sama. Anggur yang diminum hari ini adalah untuk merayakan mawar yang esok sudah layu.” Lelaku reformis KPK, kadang hembuskan angin ke arah tak terduga. Dulu, tentu saja ini hal yang aneh. Dulu, para penulis arief Indonesia, para pemikir sejarah kebudayaan kerap menuturkan bahwa hanya dari sebuah rumah yang ramah, sakinah, arah angin keadilan dapat dikendalikan. Tak sedikit petuah-petuah lama berujar Hands have no tears to flows. Seorang presiden, raja, seniman, wartawan, kepala keluarga atau entah apa namanya, ketika ditangannya tergenggam kekuasaan amatlah arief manakala tidak memiliki airmata untuk dialirkan. Ini persis banget seperti dituturkan budaya tatar Sunda dalam naskah kuno “Sanghyang Siskanda ng Keresian” yang ditranskripsi Atja (1973). Di sini terdeskripsi perihal disiplin hukum bermula dari struktur sosial terkecil, yaitu rumah. “Anak bakti ti bapa, ewe bakti ti laki dst dst”. Bahklan dalam wacana lama Crebon terlukis indah hukum yang dimitoskan sebagai Sang Putri Guri Lawang. Dewi Justitia digambarkan sebagai Putri Guri Lawang yang tak pernah letih menari di lengkung langit keadilan. Dalam karya-karya klasik digambarkan bahwa lelaku urip yang memiliki komitmen disiplin tinggi hanya dimiliki oleh mereka yang selalu berada di balik pintu. Siapa dia? Putri Guri Lawang! Dalam kajian Jawa abad ke-15, ini dimaknai sebagai keterjagaan, kebaktian dan perjalanan sangkan oparaning dumadi. Artinya, kebaktian kepada sejatining kebenaran pada hakikatnya merupakan parameter aksi moral hukum. Menjadi penjaga hukum bukan hal yang fungsional tapi justru merupakan struktur atas partikel substansi dari kebaktian itu sendiri. Waktu demi waktu yang berdetak sejak tidur, terjaga hingga tidur lagi diformulasikan sebagai arena kebaktian untuk menegakan kebenaran. Artinya lagi, di sini, SBY adalah penjaga pintu hukum paling terdepan. Saat Aulia Pohan tak ogah ditahan KPK juga saat SBY ekspresikan sebagai seorang negarawan di istana Negara pada hakikatnya adalah ritual kebaktian bersifat holistik. Tak jelas apakah SBY mencoba mendaur ulang ucapan Frans Kafka dalam ‘Der Propzess’ “Di muka hukum berdiri seorang penjaga pintu. Itulah diriku. Dan, saya hanyalah penjaga pintu terendah dan terdepan. Sementara dari ruangan ke ruangan, berdiri penjaga-penjaga pintu lainnya. Yang satu selalu lebih kuat dari yang lainnya. Dan dalam tugasnya, ia tak dapat diubah pendiriannya baik lantaran belas kasihan, maupun disebabkan ia dicekam kemarahan.” Tak ayal, inilah yang disebut dengan transformasi struktur kultural. Simak Sir Henry Maine yang lahir di Leightan, England, 15 Agustus 1822, yang konon merupakan icon penting dalam mendeskripsikan hukum dan kesejarahan, konon sudahpun memprediksi di seputar transformasi struktur cultural ini. Sebuah pergerakan sejarah dalam mengubah suai dari “manusia status” menjadi “manusia kontrak” Dari perisirahatannya terakhirnya di Cannes, lihatlah Maine mengkritisi ‘manusia status’ yang adem ayem. Maine melukiskannya sebagai nomena status. Perilaku politik cenderung statis, diam, dan membisu. Dan, baginya keajegan alam adalah norma-norma paling menemtramkan batin. Maka berbagai kebijakan lebih diarahkan kepada kondisi keajegan yang tertib, aman,dan teratur. Bumi boleh berputar tapi tidak bagi warna zaman. Peradaban bisa jadi mati suri. Tapi tak berarti kehidupan jadi berhenti. Dan, Dewi Justitia tertidur pulas. Keadilan memosisikan diri dalam status merdeka dalam ketidak-merdekaan. Padahal, realitas sosial setidaknya mengkhabarkan bahwa bumi tak pernah sepi dari pencarian nilai-nilai baru kualitas disiplin hukum. Maine dalam Ancient Law (1681) mendeskripsikan fenomena itu begitu signifikan, yang konon sering ditutur-ulang para pakar sosial budaya. “The movement of the progresive societies has hithero been a movement from status to contract” Menulis ‘korupsi’ di atas air, tentu ini hal yang sia-sia. SBY boleh jadi sedang mencari cahaya nurbuat pulung guna pulung sari. Tapi marilah mencari ‘hari kemarin’ sebagai cermin yang arif. Di sini, di cermin ini, ada politik ditulis dengan tinta cinta yang konon kerap kali melahirkan anak-anak aneh sejarah yang muram. Itu bukan jiwa manusia Jawa. Maka, amat arieflah ketika Seyyed Hossein Nasr pun menulis lirih:”Wahai atom-atom yang tersesat. Kembalilah kepada intimu. Dan jadilah cermin abadi, hingga kamu saksikan berkas cahaya yang tenggelam ke dalam kelam.”*** Tandi Skober

Toko Lucu

Amazon.com ArtStore Camera & Photo Store Mp3 Store Office Products Store Kindle Store Sports & Outdoors Store Health & Personal Care Store Home & Garden Store Grocery Store Magazine Subscriptions Store Software Store Shoes Store Tools & Hardware Store Kitchen & Housewares Store Industrial & Scientific Store Jewelry Store Video On Demand Videos Store Gourmet Food Store Watches Store Beauty Store Computer Store Cell Phones & Service Store Electronic Store Automotive Store Apparel & Accessories Store DVD Store Miscellaneous Store Wireless Accessories Store KOKKANG Store

$value) { if (strpos($param, 'color_') === 0) { google_append_color($google_ad_url, $param); } else if (strpos($param, 'url') === 0) { $google_scheme = ($GLOBALS['google']['https'] == 'on') ? 'https://' : 'http://'; google_append_url($google_ad_url, $param, $google_scheme . $GLOBALS['google'][$param]); } else { google_append_globals($google_ad_url, $param); } } return $google_ad_url; } $google_ad_handle = @fopen(google_get_ad_url(), 'r'); if ($google_ad_handle) { while (!feof($google_ad_handle)) { echo fread($google_ad_handle, 8192); } fclose($google_ad_handle); } ?>