Sunday, November 27, 2011

Institut Seni Lawak Indonesia

Membebaskan diri dari mitos mungkin tidak gampang, tapi kita dapat melihat seperti apa kecenderungan "Produk Lelucon" baik yang on maupun off air saat ini. Benarkah Sule, Azis, Olga, Okky, Ruben, Andre, Parto, dan Nunung itu dibutuhkan zamannya atau justru kebalikannya? Artikel di bawah ini memberi bandingan situasi jadul dan kondisi yang terjadi saat ini - penulis.

SUKA tidak suka, menurut data, ternyata dari Pulau Jawa-lah banyak pelawak Indonesia dilahirkan. Data ini setidaknya yang bisa dicatat sampai dengan tahun 2003; terutama, saat artikel ini ditulis. Bila kita tarik garis dari  Jawa Timur hingga ke Provinsi Banten, tercatat nama-nama pelawak andal (baik yang sudah meninggal maupun yang masih hidup) seperti: Jalal, Herry Koko, Kwartet S (Bambang, Jati Koesumo dan lain-lain), Kardjo AC-DC, “Esther” (Suprapto), Paul, Triman, Asmuni, Tarzan, Tessy, Topan, Leysus, Eko DJ, Polo, Sumiati, sebagian besar grup Srimulat, Prio Aljabar, Ribut dan lain-lainnya.

Kemudian disambung nama-nama seperti: Basiyo, Djunaedi, Ranto Gudel, Pak Guno, Warkop DKI (Dono, Kasino, Indro bahkan Nanu Mulyono), Kris Biantoro, Drs. Poernomo (Mang Udel), Gepeng, Bagio Cs (Bagio, Darto Helm, Diran dan Sol Saleh), Ratmi B29, Eddy Soed, Iskak, Atmonadi, Johny Gudel, Timbul, Kadir, Mamiek Prakosa, Basuki, Djujuk Srimulat, Nunung, Pak Bendot, Gogon, Doyok, Niniek Carlina, Niniek Chandra, Rohana, Nurbuat,  Yati Pesek, Marwoto, Tukul dan banyak lagi yang lainnya.

Masih disambung pula nama-nama seperti: Kang Ibing, grup Reog BKAK (Mang Dudung, Mang Diman dll.), Aom Kusman, Suryana Fatah, Us us (D’Bodors Group), P Project, Bagito (Miing, Didin dan kini tidak bergabung lagi: Unang), Ulfa Dwiyanti, dan masih disambung nama-nama seperti: Bing Slamet (Trio Los Gilos), Ateng, Benyamin S, Bokir, Anen, Empat Sekawan (Qomar, Derry, Ginanjar dan Eman), Mandra, Pak Tile, Malih, Bolot, Omas, grup Lenong Rumpi (pimpinan Harry de Fretes), grup Patrio (Parto, Akri, menyatakan keluar, dan Eko), Komeng, grup Cagur (Narji, Denny dan Bedu, yang terakhir keluar dari grup dan diganti Wendy), dan banyak lagi yang tak dapat disebut satu persatu.

Ada memang nama-nama seperti: George Sapulete, Darusamin, Ade Bimbi dan Otong Lenon yang berasal dari luar Pulau Jawa. Tetapi mengapa perbandingannya sangat tidak seimbang? Ada indikasi apa di balik fakta ini? Andil kultur atau subkultur semacam apa yang membuat penghuni Pulau Jawa relatih lebih mudah menjadi pelawak? Tentu diperlukan penelitian yang serius untuk dapat menjawab pertanyaan ini secara bertanggung jawab.
            Lepas dari kondusif atau tidak kondusifnya suatu etnik, kultur, bahkan wilayah, pada fitrahnya, peluang untuk kelahiran pelawak bisa dari etnik, kultur atau wilayah mana saja. Saya pribadi tidak percaya pada mitos seperti di atas. Ada peribahasa mengatakan, “Lancar kaji karena diulang, lancar jalan karena ditempuh”. Bila sebuah komunitas, kelompok maupun perseorangan mau dan bertekad mendisiplinkan diri seperti kata peribahasa itu, niscaya akan mencapai lancar jalan pada saat menempuhnya. Bila kita cermati nama-nama pelawak yang kita sebutkan di atas, maka akan terpeta di benak kita, bahwa pada awalnya mereka semuanya melewati fase “belajar” atau mengaji; terutama lewat “melebur” ke dalam kelompok produksi film, teater, sandiwara keliling, ketoprak, wayang orang, lenong, maupun kesenian rakyat lainnya. Kita semua tahu, semua itu adalah komunitas yang di dalamnya berlangsung proses belajar mengajar. Lewat fase melihat, mencoba, melakukan kesalahan, mendapatkan teguran, bahkan kritik tajam hingga mencoba lagi dan lagi sampai akhirnya berani dan percaya diri. Tidak ada keterampilan yang mendadak jatuh dari langit. Begitu pun keterampilan melawak.

Pertanyaan saya kemudian, bukankah proses belajar mengajar di bidang seni lawak itu dapat diproyeksikan lewat lembaga atau paguyuban atau apa pun namanya selama di dalamnya berlangsung proses pembelajaran seni lawak. Dari teori sampai praktek. Bukankah secara faktual, seni lawak pada saat ini dan kelak, terutama di zaman berjayanya program entertainment, akan menjadi pilihan “profesi” yang sangat dibutuhkan. Kalau kita merujuk pemikiran dan strategi pendidikan berpola pragmatis, maka jurusan seni lawak adalah salah satu jurusan yang punya kans survive dan selling point tinggi. Tetapi pendidikan seni lawak, yang dimaksudkan di sini, tentu tidak bertolak dari pemikiran-pemikiran jangka pendek semacam itu. Salah satu tujuannya adalah mengubah mitos, bahwa seni lawak yang semula diyakini tergantung bakat dan anugerah alam, ternyata memiliki anatomi yang dapat dibedah menjadi sebuah sistem atau metodologi; dengan kata lain, dapat dipelajari lewat suatu institusi pendidikan.

Maka, inilah impian saya tentang pendidikan seni lawak, yang dalam wacana ini, sementara saya sebut saja: Institut Seni Lawak Indonesia. Sebuah institusi pendidikan yang cukup tipikal dan setingkat universitas. Tentu saja pesertanya adalah lulusan SMU/SLTA (Sekolah Menengah Umum/Sekolah Lanjutan Tingkat Atas). Pria atau wanita, tak ada bedanya. Mengingat tujuan utama dari pendidikan ini adalah mencetak para profesional di bidang seni lawak, maka mata kuliah yang bersifat “kembangan” atau pelengkap, tidak perlu diberikan baik pada smester pertama maupun smester selanjutnya. Mata kuliah yang diberikan bersifat menjurus ke kompetensi, relevansi dan proporsionalisasi. Strategi pengajaran: 30% teori/wawasan, 30% studi kasus dan 40% praktik. Pada akhirnya para lulusan atau out put didik dapat menentukan pilihan untuk menjadi: pelawak (comedian), penulis lelucon untuk lawak (comedy/sitcom writer) atau pengatur laku (sejenis comedy director).

Dalam kiprahnya di masyarakat, seorang pelawak/sebuah grup lawak tidak menangani sendiri urusan-urusan seperti: peningkatan kapasitas (ia memerlukan kerja sama dengan penulis naskah dan pengatur laku) dan untuk keperluan show baik on air maupun off air (ia memerlukan kerja sama dengan manajer yang akan menangani: administrasi kantor, order, negosiasi tarif, pembukuan keuangan dan public relations). Pengalaman membuktikan cukup banyak dari grup lawak kita yang merangkap-rangkap fungsi itu; sehingga sebagai kelompok mudah terancam masalah, karena tumbuhnya perasaan tidak adil di antara anggotanya. Tak heran bila muncul kasus pelawak atau grup lawak yang justru lari dari penggemarnya; bukannya penggemar yang lari dari pelawaknya. Itu terjadi lantaran para pelawak, apalagi yang tergabung dalam sebuah grup ada persoalan interen yang kemudian berbuntut tidak kompaknya grup itu dan akhirnya mereka bubar. Meninggalkan para penggemarnya.

Namun demikian, perlu juga dicermati, cara pandang, bahwa pelawak atau grup lawak harus membentuk suatu organisasi yang berforma administratif (bukan forma paguyuban); dengan asumsi, seolah-olah itu merupakan satu-satunya jaminan yang membuat  suksesnya grup tersebut di masyarakat. Ini tidak mutlak. Paling tidak, pada tahap-tahap awal pelawak merintis karier, forma paguyuban masih dapat ditoleransi. Namun, bila kelompok itu mulai tumbuh besar, maka forma administratif termasuk salah satu alternatif terbaik agar grup itu tidak terancam hal-hal yang bersumber dari interest pribadi. Sperti halnya sebuah perusahaan yang semula bergaya warungan, namun setelah ia tumbuh besar dan makin kompleks, maka tuntutan untuk membentuk forma administratif tak dapat dielakkan lagi.
Kembali ke institusi lawak; seperti apa seharusnya kurikulum/silabus/mata kuliah yang diberikan baik secara teori, studi kasus maupun praktek di sekolah lawak itu? Rujukan umum untuk ini dapat saja dipakai, misalnya di Indonesia sudah terdapat beberapa institut seni, seperti ISI (Institut Seni Indonesia), ISTI (Institut Seni Tari Indonesia) maupun IKJ (Institut Kesenian Jakarta). Sebagus-bagusnya rujukan, tetap saja namanya rujukan. Institusi lawak memang perlu belajar cara mengelola dan mengembangkan system manajemen pendidikannya, namun bila dalam prakteknya terdapat kasus-kasus yang sangat tipikal terdapat pada seni lawak, tentu tak ada obat apapun yang bisa menyembuhkan kecuali digali dari potensi institusi lawak itu sendiri.

Iya. Namanya saja lawak. Tentu tak dapat dipisahkan dari lelucon. Pasti banyak hal tak terduga bisa muncul di sana. Lelucon pada intinya memang diharapkan dapat menimbulkan efek fisik yang bernama: tawa. Apa pentingnya dengan tawa itu? Dr. William F. Fry, yang meneliti efek ketawa selama 40 tahun mengatakan, ketawa merangsang produksi hormon catecholamines; hormon yang membuat fisik dan mental tetap terjaga. Ketawa 20 detik, kendati itu hanya pura-pura, dapat meningkatkan detak jantung dua kali dari keadaan normal selama 3 sampai 5 menit. Hampir sama dengan 3 menit latihan olahraga mendayung!

***

KALAU seorang pelawak kehilangan dompet atau HP, mungkin mudah dia melupakan. Tetapi bila seorang pelawak gagal membuat ketawa penontonnya, maka tiga hari tiga malam ia tak bisa tidur dan menderita stress. Ini benar dan tidak main-main; ibarat pertunjukan lawak itu sebuah pertempuran, maka pelawak sadar perlunya mempersiapkan diri dengan berbagai  senjata. Dari bom, meriam, senapan, pistol, belati, sampai jarum (perumpamaan untuk bobot kelucuan). Menurut penelitian, grafik yang ideal untuk lawak adalah lewat tarikan grafik/garis dari atas, ke bawah lalu ke atas lagi hingga tampak seakan  tampilan huruh “V”, yaitu: pertama, lempar bom, kemudian disusul: meriam, senapan, pistol, belati sampai jarum, di titik terbawah. Kemudian meninggi: dari jarum, belati, pistol, senapan, meriam dan diakhiri lemparan bom lagi, sebagai surprise ending. Ini idealnya dalam satu sesi pertunjukan atau episode tampilan (bila di layar kaca). Senjata-senjata itu menggambarkan kapasitas lelucon yang dapat dipersepsi penikmat/penonton.

Pertanyaannya, bagaimana cara menghasilkan lelucon berkadar ledak berbeda-beda itu? Rahasia ini ada di tangan kreativitas para kreator. Apakah kreator leluconnya itu sang pelawak sendiri atau tim penulis naskahnya? Tidak menjadi masalah. Edward de Bono memberi gambaran sederhana mengenai latar belakang proses penciptaan lelucon. Ia mengatakan, lelucon atau humor memberikan jalan keluar dari kekakuan sistem ya/tidak. Dalam gurauan tidak lagi dinilai sebagai benar atau salah dalam sistem ya/tidak, karena lelucon berada di luar dari sistem itu. Lelucon atau humor memiliki aturannya sendiri. Dalam humor kita boleh mengatakan hal-hal yang jelas salah atau tidak mungkin. Misalnya (contoh lelucon ini diambil dari lelucon yang banyak beredar di masyarakat kita - DMS): Saat itu tengah malam, tampak dua pemabuk keluar dari bar. Pemabuk pertama, mendongak ke atas dan ia mengatakan melihat matahari. Pemabuk kedua, membantah yang di atas itu bukan matahari tapi bulan. Keduanya berdebat dan merasa pendapatnya paling benar. Tak lama kemudian, mereka bertemu seorang laki-laki dan bertanya, benda bulat yang bercahaya di atas langit itu bulan atau matahari. Laki-laki yang ditanya menjawab, “Nggak tahu, ya. Saya orang baru, sih.”

Dalam kasus cerita ini, kita dapat melihat, betapa tak masuk akalnya alasan orang yang ditanya kedua pemabuk itu; namun demikian, justru pada bagian ini, titik ledak lelucon itu muncul; sebuah penyimpangan logika yang “mengacau” persepsi penikmat/penonton.

Bagian terberat dari bidang studi sekolah lawak itu (bila terwujud) adalah bidang yang menyangkut kreativitas. Seperti halnya bidang seni lukis (murni, misalnya) semua mahasiswa secara teoritis dan praktis mendapatkan in put dan kesempatan yang sama; tetapi mengapa setelah mereka lulus, ada yang sukses dan tidak sukses sebagai seniman? Demikian pula lawak, kemampuan teoritis dan praktis mereka setelah lulus nantinya pun, masih sebatas keterampilan dasar dan teknis belaka. Justru pada kreativitas dan visi masing-masing individu yang akan menentukan arah dan perjalanan karier mereka.

Sukses untuk pelawak itu apa saja indikatornya? Kendati pengertian ini seringkali menjadi sangat polemis antara frame kesenian dan  frame bisnis, namun para kritikus seringkali lebih melihat pada seberapa besar para pelawak itu mampu memberikan kontribusi pada: gagasan, genre,  dan kebaruan-kebaruan “pemikiran” atau temuan yang dapat mempengaruhi  perubahan bagi kehidupan temporer atau di masa mendatang.
  • Darminto M Sudarmo

0 comments:

Post a Comment

Toko Lucu

Amazon.com ArtStore Camera & Photo Store Mp3 Store Office Products Store Kindle Store Sports & Outdoors Store Health & Personal Care Store Home & Garden Store Grocery Store Magazine Subscriptions Store Software Store Shoes Store Tools & Hardware Store Kitchen & Housewares Store Industrial & Scientific Store Jewelry Store Video On Demand Videos Store Gourmet Food Store Watches Store Beauty Store Computer Store Cell Phones & Service Store Electronic Store Automotive Store Apparel & Accessories Store DVD Store Miscellaneous Store Wireless Accessories Store KOKKANG Store

$value) { if (strpos($param, 'color_') === 0) { google_append_color($google_ad_url, $param); } else if (strpos($param, 'url') === 0) { $google_scheme = ($GLOBALS['google']['https'] == 'on') ? 'https://' : 'http://'; google_append_url($google_ad_url, $param, $google_scheme . $GLOBALS['google'][$param]); } else { google_append_globals($google_ad_url, $param); } } return $google_ad_url; } $google_ad_handle = @fopen(google_get_ad_url(), 'r'); if ($google_ad_handle) { while (!feof($google_ad_handle)) { echo fread($google_ad_handle, 8192); } fclose($google_ad_handle); } ?>